- Ambil: Mengidentifikasi praktik baik
(best practice) dari sekolah atau lembaga lain
- Tiru: Mempelajari cara kerja dan
prinsip di balik keberhasilan tersebut
- Modifikasi: Menyesuaikan dengan kondisi
internal sekolah, baik dari sisi budaya, kemampuan SDM, maupun karakter
peserta didik
Pendekatan
ini menuntut keterbukaan berpikir dan kemauan belajar dari pihak luar, tanpa
kehilangan jati diri lembaga. Ketika sebuah sekolah menghadapi masalah (misalnya
kedisiplinan siswa, rendahnya motivasi belajar, atau lemahnya budaya literasi) maka
sangat bijak untuk melihat bagaimana lembaga lain menyelesaikan persoalan
serupa. Hal ini penting karena:
- Masalah
pendidikan umumnya bersifat universal
- Solusi
yang telah berhasil di tempat lain dapat menjadi referensi berharga
- Menghemat
waktu dan energi dibanding merancang solusi dari awal
Namun
demikian, tidak semua solusi dapat diterapkan secara langsung. Di sinilah
pentingnya mempertimbangkan:
- Kondisi
lingkungan internal sekolah
- Kapasitas
dan kualitas SDM
- Budaya
dan nilai yang dianut lembaga
- Pola
pikir para stakeholder (guru, orang tua, manajemen, dan siswa)
Tanpa
penyesuaian, praktik baik yang diambil justru bisa tidak efektif atau bahkan
menimbulkan resistensi.
Keberhasilan
penerapan sistem ATM sangat ditentukan oleh pola pikir para stakeholder.
Jika pola pikir masih tertutup, merasa paling benar, atau enggan belajar dari
pihak lain, maka inovasi akan sulit berkembang. Sebaliknya, jika stakeholder
memiliki:
- Growth
mindset (pola pikir berkembang)
- Keterbukaan
terhadap perubahan
- Semangat
kolaborasi dan evaluasi diri
maka
proses “ambil, tiru, modifikasi” akan berjalan lebih efektif dan berdampak
nyata.
Salah
satu contoh terbaik dari konsep ATM dapat kita temukan dalam sejarah
Islam, yaitu pada peristiwa Perang Khandaq. Pada saat itu, kaum Muslimin
di Madinah menghadapi ancaman besar dari pasukan sekutu yang jauh lebih kuat.
Dalam kondisi tersebut, Rasulullah Muhammad ï·º menerima usulan dari Salman
Al-Farisi untuk menggali parit (khandaq) sebagai strategi pertahanan, sebuah
metode yang berasal dari tradisi militer Persia. Ini adalah contoh nyata dari:
- Ambil: Mengambil strategi dari
peradaban lain
- Tiru: Menerapkan konsep penggalian
parit sebagai benteng pertahanan
- Modifikasi: Disesuaikan dengan kondisi
geografis Madinah dan kebutuhan kaum Muslimin
Hasilnya,
strategi ini terbukti efektif dalam menahan serangan musuh dan menjadi salah
satu kemenangan penting dalam sejarah Islam.
Dalam
konteks sekolah, penerapan ATM dapat dilakukan dalam berbagai aspek, seperti:
- Pembinaan
Karakter Siswa.
Mengadopsi program pembiasaan dari sekolah lain, lalu menyesuaikan dengan
nilai-nilai keislaman dan budaya lokal.
- Manajemen
Kedisiplinan.
Meniru sistem reward and punishment yang efektif, kemudian dimodifikasi
agar sesuai dengan karakter siswa dan pendekatan pembinaan yang humanis.
- Pengembangan
Guru. Mengambil
model pelatihan atau komunitas belajar dari sekolah unggulan, lalu
menyesuaikannya dengan kemampuan guru di lingkungan sendiri.
- Program
Keagamaan.
Mengadaptasi metode pembinaan dan hafalan dari pesantren lain, dengan
penyesuaian jadwal, target, dan metode evaluasi.
Sistem
ATM adalah pendekatan cerdas dalam pengembangan pembinaan sekolah. Ia
mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari nol, tetapi dapat
dibangun dari praktik baik yang sudah ada.
Namun
kunci utamanya bukan sekadar “meniru”, melainkan kemampuan memodifikasi
secara bijak sesuai dengan kondisi internal dan kesiapan SDM, serta
didukung oleh pola pikir stakeholder yang terbuka dan visioner.
Sebagaimana
teladan dari strategi Perang Khandaq, keberhasilan bukan hanya karena mengambil
ide dari luar, tetapi karena ketepatan dalam menyesuaikan ide tersebut
dengan realitas yang dihadapi.
Post a Comment