Satu Suara dalam Pembinaan: Kunci Keberhasilan Pengasuhan Guru dan Musyrif di Era Pendidikan Berasrama

Dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah dan pesantren berasrama, keberhasilan pembinaan peserta didik tidak hanya ditentukan oleh kualitas kurikulum atau kecanggihan sarana pendidikan. Faktor yang sangat menentukan adalah kesatuan sikap, kesamaan standar, dan kekompakan para guru serta musyrif dalam menjalankan proses pengasuhan. Murid yang setiap hari berinteraksi dengan banyak pembina membutuhkan arahan yang jelas, konsisten, dan tidak saling bertentangan. Oleh karena itu, kesatuan langkah dalam pembinaan merupakan salah satu fondasi utama keberhasilan pendidikan karakter.

Salah satu masalah yang sering muncul dalam lembaga pendidikan adalah adanya perbedaan standar pembinaan di antara guru dan musyrif. Sebagian pembina menerapkan aturan secara sangat ketat, sementara sebagian lainnya cenderung longgar dan permisif. Akibatnya, peserta didik menerima pesan yang berbeda-beda terhadap aturan yang sama. Dalam kondisi seperti ini, murid bukan lagi fokus memperbaiki diri, tetapi mulai membanding-bandingkan pembinanya.

Muncul ungkapan seperti, “Kalau ustaz A tidak masalah,” atau “Kalau musyrif B pasti membolehkan.” Pada titik ini, standar lembaga perlahan tergeser oleh standar pribadi masing-masing pembina. Murid akhirnya belajar mencari celah, bukan belajar menaati aturan. Mereka lebih sibuk menyesuaikan diri dengan karakter pembina daripada memahami nilai dan tujuan pendidikan yang ingin ditanamkan.

Padahal dalam Islam, persatuan dan kesatuan merupakan prinsip yang sangat ditekankan. Allah Ta’ala berfirman:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini tidak hanya berlaku dalam konteks umat secara umum, tetapi juga relevan dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Guru dan musyrif harus bersatu dalam visi, tujuan, dan standar pembinaan sehingga peserta didik memperoleh arahan yang sama dari seluruh unsur pendidikan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga perkara: hendaklah kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak berpecah belah, serta menasihati pemimpin yang Allah berikan urusan kepada kalian.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa persatuan merupakan sebab turunnya keberkahan dan keridhaan Allah. Sebaliknya, perpecahan dalam pembinaan akan melahirkan kebingungan, konflik, dan lemahnya efektivitas pendidikan.

Keseragaman standar bukan berarti semua guru dan musyrif harus memiliki karakter yang sama. Setiap pembina memiliki kepribadian, pendekatan, dan gaya komunikasi yang berbeda. Ada yang tegas, ada yang lembut, ada yang lebih banyak memberi motivasi, dan ada yang lebih kuat dalam penegakan disiplin. Perbedaan ini justru menjadi kekuatan apabila berada dalam koridor standar yang sama.

Ibarat sebuah tim sepak bola, setiap pemain memiliki posisi dan tugas yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju satu tujuan yang sama. Demikian pula dalam pengasuhan. Ada guru yang berperan sebagai motivator, ada yang fokus pada kedisiplinan, ada yang dekat dengan siswa secara emosional, dan ada yang menjadi pengingat aturan. Namun seluruh peran tersebut harus berjalan berdasarkan kesepakatan lembaga yang telah ditetapkan bersama.

Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah kesamaan karakter, melainkan kesamaan standar. Semua guru dan musyrif harus memahami batasan-batasan yang telah disepakati: apa yang boleh, apa yang tidak boleh, bagaimana bentuk pembinaan, bagaimana mekanisme teguran, penghargaan, pembinaan pelanggaran, serta target karakter yang ingin diwujudkan. Ketika standar telah disepakati, maka seluruh pembina berkewajiban menjalankannya secara konsisten.

Dalam praktiknya, pembagian peran juga sangat penting. Guru memiliki fungsi utama sebagai pendidik dan teladan dalam proses pembelajaran, sedangkan musyrif memiliki ruang yang lebih luas dalam pengawasan kehidupan sehari-hari santri. Namun keduanya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Harus ada komunikasi yang intens, koordinasi yang rutin, serta evaluasi bersama terhadap perkembangan peserta didik. Murid yang bermasalah di kelas perlu diketahui oleh musyrif, dan murid yang mengalami kendala di asrama perlu diketahui oleh guru. Dengan demikian pembinaan berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Imam Malik رحمه الله pernah berkata:

“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”

Salah satu rahasia keberhasilan generasi sahabat adalah adanya kesatuan arah pembinaan dari Rasulullah ﷺ. Mereka menerima nilai, aturan, dan teladan yang sama sehingga terbentuk karakter yang kokoh dan tidak mudah goyah.

Pada akhirnya, peserta didik tidak membutuhkan banyak standar. Mereka membutuhkan satu standar yang jelas dan diterapkan secara konsisten oleh seluruh guru dan musyrif. Ketika pembina kompak, murid akan merasa aman, memahami batasan yang jelas, dan lebih mudah dibentuk karakternya. Sebaliknya, ketika pembina berjalan dengan standar masing-masing, kebingungan akan muncul, kewibawaan aturan melemah, dan tujuan pendidikan menjadi sulit tercapai.

Maka, salah satu investasi terbesar dalam pendidikan bukan hanya membina murid, tetapi juga menyatukan hati, persepsi, dan langkah para guru serta musyrif. Sebab murid yang hebat lahir dari pembina yang kompak, dan pembina yang kompak lahir dari komitmen untuk menjadikan standar lembaga di atas kepentingan dan gaya pribadi masing-masing.

___

Post a Comment

Previous Post Next Post