Salah satu masalah yang sering
muncul dalam lembaga pendidikan adalah adanya perbedaan standar pembinaan di
antara guru dan musyrif. Sebagian pembina menerapkan aturan secara sangat
ketat, sementara sebagian lainnya cenderung longgar dan permisif. Akibatnya,
peserta didik menerima pesan yang berbeda-beda terhadap aturan yang sama. Dalam
kondisi seperti ini, murid bukan lagi fokus memperbaiki diri, tetapi mulai
membanding-bandingkan pembinanya.
Muncul ungkapan seperti, “Kalau
ustaz A tidak masalah,” atau “Kalau musyrif B pasti membolehkan.”
Pada titik ini, standar lembaga perlahan tergeser oleh standar pribadi
masing-masing pembina. Murid akhirnya belajar mencari celah, bukan belajar
menaati aturan. Mereka lebih sibuk menyesuaikan diri dengan karakter pembina
daripada memahami nilai dan tujuan pendidikan yang ingin ditanamkan.
Padahal dalam Islam, persatuan dan
kesatuan merupakan prinsip yang sangat ditekankan. Allah Ta’ala berfirman:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ
جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ
Artinya: “Dan berpegang teguhlah
kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini tidak hanya berlaku dalam
konteks umat secara umum, tetapi juga relevan dalam pengelolaan lembaga
pendidikan. Guru dan musyrif harus bersatu dalam visi, tujuan, dan standar
pembinaan sehingga peserta didik memperoleh arahan yang sama dari seluruh unsur
pendidikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاثًا،
وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ
لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah
meridhai bagi kalian tiga perkara: hendaklah kalian beribadah kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya, berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak berpecah
belah, serta menasihati pemimpin yang Allah berikan urusan kepada kalian.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa
persatuan merupakan sebab turunnya keberkahan dan keridhaan Allah. Sebaliknya,
perpecahan dalam pembinaan akan melahirkan kebingungan, konflik, dan lemahnya
efektivitas pendidikan.
Keseragaman standar bukan berarti
semua guru dan musyrif harus memiliki karakter yang sama. Setiap pembina
memiliki kepribadian, pendekatan, dan gaya komunikasi yang berbeda. Ada yang
tegas, ada yang lembut, ada yang lebih banyak memberi motivasi, dan ada yang
lebih kuat dalam penegakan disiplin. Perbedaan ini justru menjadi kekuatan
apabila berada dalam koridor standar yang sama.
Ibarat sebuah tim sepak bola, setiap
pemain memiliki posisi dan tugas yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju
satu tujuan yang sama. Demikian pula dalam pengasuhan. Ada guru yang berperan
sebagai motivator, ada yang fokus pada kedisiplinan, ada yang dekat dengan
siswa secara emosional, dan ada yang menjadi pengingat aturan. Namun seluruh
peran tersebut harus berjalan berdasarkan kesepakatan lembaga yang telah
ditetapkan bersama.
Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah
kesamaan karakter, melainkan kesamaan standar. Semua guru dan musyrif harus
memahami batasan-batasan yang telah disepakati: apa yang boleh, apa yang tidak
boleh, bagaimana bentuk pembinaan, bagaimana mekanisme teguran, penghargaan,
pembinaan pelanggaran, serta target karakter yang ingin diwujudkan. Ketika
standar telah disepakati, maka seluruh pembina berkewajiban menjalankannya
secara konsisten.
Dalam praktiknya, pembagian peran
juga sangat penting. Guru memiliki fungsi utama sebagai pendidik dan teladan
dalam proses pembelajaran, sedangkan musyrif memiliki ruang yang lebih luas
dalam pengawasan kehidupan sehari-hari santri. Namun keduanya tidak boleh
berjalan sendiri-sendiri. Harus ada komunikasi yang intens, koordinasi yang
rutin, serta evaluasi bersama terhadap perkembangan peserta didik. Murid yang
bermasalah di kelas perlu diketahui oleh musyrif, dan murid yang mengalami
kendala di asrama perlu diketahui oleh guru. Dengan demikian pembinaan
berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Imam Malik رحمه الله pernah berkata:
“Tidak akan baik generasi akhir umat
ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”
Salah satu rahasia keberhasilan
generasi sahabat adalah adanya kesatuan arah pembinaan dari Rasulullah ﷺ.
Mereka menerima nilai, aturan, dan teladan yang sama sehingga terbentuk
karakter yang kokoh dan tidak mudah goyah.
Pada akhirnya, peserta didik tidak
membutuhkan banyak standar. Mereka membutuhkan satu standar yang jelas dan
diterapkan secara konsisten oleh seluruh guru dan musyrif. Ketika pembina
kompak, murid akan merasa aman, memahami batasan yang jelas, dan lebih mudah
dibentuk karakternya. Sebaliknya, ketika pembina berjalan dengan standar masing-masing,
kebingungan akan muncul, kewibawaan aturan melemah, dan tujuan pendidikan
menjadi sulit tercapai.
Maka, salah satu investasi terbesar
dalam pendidikan bukan hanya membina murid, tetapi juga menyatukan hati,
persepsi, dan langkah para guru serta musyrif. Sebab murid yang hebat lahir
dari pembina yang kompak, dan pembina yang kompak lahir dari komitmen untuk
menjadikan standar lembaga di atas kepentingan dan gaya pribadi masing-masing.
___
Post a Comment