"Yang
penting saya mengajar."
"Yang
penting tugas saya selesai."
"Saya
tidak mau ikut campur."
"Biarkan
saja, itu bukan urusan saya."
Kita mungkin tidak mampu memperbaiki semua persoalan di sekolah.
Kita tidak bisa mengendalikan semua keputusan.
Kita tidak bisa memaksa semua rekan kerja untuk memiliki cara berpikir yang sama.
Kita juga tidak selalu mampu mengembalikan kepercayaan yang telah hilang.
Tetapi ada satu hal yang masih berada dalam kendali kita: Bagaimana kita menjalankan amanah sebagai guru.
Sebab siswa tidak hanya belajar dari apa yang kita sampaikan di dalam kelas. Mereka juga belajar dari bagaimana kita bersikap ketika menghadapi masalah.
Mereka belajar dari cara kita berbicara ketika kecewa.Dan mereka belajar dari bagaimana seorang guru tetap menjalankan amanah meskipun keadaan tidak selalu sesuai dengan harapan.
Mereka belajar dari cara kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat.
Mereka belajar dari cara kita menyelesaikan konflik.
Allah Ta'ala berfirman:
ÙˆَÙ„َا
ÙŠَجْرِÙ…َÙ†َّÙƒُÙ…ْ Ø´َÙ†َآنُ Ù‚َÙˆْÙ…ٍ عَÙ„َÙ‰ٰ Ø£َÙ„َّا تَعْدِÙ„ُوا ۚ اعْدِÙ„ُوا Ù‡ُÙˆَ Ø£َÙ‚ْرَبُ
Ù„ِلتَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ٰ
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Ayat ini menjadi pengingat penting bagi seorang guru.
Keadaan orang lain tidak boleh menentukan kualitas akhlak kita.
Kalau orang lain salah, kita tetap berusaha benar.
Kalau orang lain tidak peduli, kita tetap belajar peduli.
Kalau orang lain kehilangan semangat, kita tetap menjaga amanah.
Kalau orang lain tidak menghargai kita, kita tetap menghargai orang lain.
Kalau orang lain terjatuh, kita tidak perlu ikut jatuh.
Kita
boleh tidak setuju terhadap sebuah kebijakan.
Kita
boleh mempertanyakan keputusan yang menurut kita kurang tepat.
Kita
boleh menyampaikan kritik.
Kita
boleh memberikan nasihat.
Kesalahan
perlu diperbaiki, tetapi manusia tetap harus dihargai.
Kritik
boleh disampaikan, tetapi kehormatan tetap dijaga.
Nasihat
boleh diberikan, tetapi jangan berubah menjadi penghinaan.
Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi jangan sampai memutus ukhuwah.
Ketika suasana sekolah tidak nyaman, jangan biarkan kualitas mengajar kita bergantung sepenuhnya pada bagaimana orang lain memperlakukan kita.Kita
mengajar bukan hanya karena kepala sekolah.
Kita
bekerja bukan hanya karena rekan kerja.
Kita
mendidik bukan hanya karena penghargaan.
Kita menjalankan amanah karena Allah.
Ada siswa yang mungkin tidak pernah tahu berapa banyak energi yang kita keluarkan untuk menyiapkan pembelajaran. Ada orang tua yang mungkin tidak melihat perjuangan kita mendampingi anak-anak mereka. Ada rekan kerja yang mungkin tidak mengetahui kontribusi yang telah kita berikan. Bahkan mungkin suatu ketika usaha kita tidak mendapatkan apresiasi sebagaimana yang kita harapkan. Namun Allah mengetahui semuanya.Ø¥ِÙ†َّ
اللَّÙ‡َ Ù„َا ÙŠُضِيعُ Ø£َجْرَ الْÙ…ُØْسِÙ†ِينَ
"Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. At-Taubah: 120)
Karena itu, jangan berhenti berbuat baik hanya karena lingkungan tidak memberikan penghargaan. Jangan berhenti mengajar dengan sungguh-sungguh hanya karena kita sedang kecewa. Jangan berhenti membimbing siswa hanya karena hubungan dengan sebagian orang dewasa di sekolah sedang tidak baik. Siswa tetap memiliki hak untuk mendapatkan guru terbaik dari kita, apa pun keadaan yang sedang kita hadapi.Menjadi guru bukan berarti kita tidak boleh lelah.
Guru boleh kecewa.
Guru boleh sedih.
Guru boleh merasa tidak nyaman.
Guru boleh membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Namun setelah itu, kita perlu kembali bertanya: Apa yang menjadi amanah saya?
Maka, jika hari ini suasana sekolah terasa tidak nyaman, jangan buru-buru kehilangan arah.
Tetaplah menjadi guru yang baik.
Tetaplah mengajar tanpa menggantungkan keikhlasan pada penghargaan manusia.
Tetaplah mendidik meskipun tidak selalu diapresiasi.
Tetaplah menjaga persaudaraan meskipun tidak semua orang memahami kita.
Dan tetaplah menjadi teladan, terutama ketika keadaan sedang tidak ideal.
Sebab terkadang, Allah tidak sedang
meminta kita mengubah seluruh keadaan di sekolah. Allah hanya ingin melihat
bagaimana kita tetap menjadi guru yang baik di tengah keadaan yang tidak mudah. Dan mungkin, justru di situlah nilai
terbesar dari sebuah amanah sedang diuji.
______
Post a Comment