Supervisi Instruksional Berbasis Nilai Islam: Tantangan dan Peluang di Sekolah Islam Kontemporer

Salah satu tantangan nyata dalam pengelolaan sekolah Islam saat ini adalah memastikan bahwa kualitas pembelajaran tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam integrasi nilai-nilai Islam. Dalam praktik supervisi instruksional, sering dijumpai guru yang memiliki kompetensi materi yang baik, menguasai konten kurikulum, serta mampu menyampaikan pelajaran secara sistematis, namun masih kesulitan menghadirkan perspektif Islam secara autentik dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa profesionalisme pedagogis belum sepenuhnya terhubung dengan misi tarbiyah yang menjadi ciri khas pendidikan Islam.

Pendekatan supervisi yang tepat terhadap kasus ini tidak dapat dilakukan secara inspektif atau sekadar evaluatif. Supervisi harus diposisikan sebagai proses pembinaan (coaching) yang humanis dan reflektif. Tahap pra-observasi menjadi kunci awal, di mana supervisor mengajak guru berdialog secara mendalam tentang relevansi nilai Islam dengan materi ajar serta tujuan integrasi nilai tersebut. Pertanyaan seperti “nilai Islam apa yang dapat diangkat dari materi ini?” atau “karakter apa yang ingin dibentuk melalui pembelajaran ini?” membantu guru memaknai kembali pembelajaran sebagai sarana membentuk akal dan hati peserta didik sekaligus.

Pada tahap observasi, fokus supervisi tidak lagi semata-mata pada metode dan pengelolaan kelas, tetapi juga pada bagaimana guru membangun koneksi ayat Al-Qur’an atau hadits secara kontekstual, bukan tempelan simbolik. Integrasi nilai Islam seharusnya tampak dalam cara guru menanamkan kejujuran saat evaluasi, disiplin dalam pengelolaan waktu, adab bertanya dan berdiskusi, serta tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Di sinilah nilai akhlak hidup dalam proses belajar, bukan hanya tertulis dalam dokumen kurikulum.

Secara kontekstual, tantangan ini semakin relevan di tengah tuntutan mutu global dan standar profesional yang cenderung menekankan capaian kognitif dan kompetisi. Jika sekolah Islam tidak sadar arah, supervisi bisa terjebak pada logika teknokratis yang mengabaikan ruh pendidikan Islam. Supervisi instruksional justru harus menjadi benteng terakhir penjaga identitas sekolah Islam, memastikan bahwa setiap praktik pembelajaran tetap berpijak pada amanah, shura, dan orientasi ibadah. Guru tidak dituntut menjadi “ustaz di setiap mata pelajaran”, tetapi pendidik yang sadar nilai dan mampu mengaitkan ilmu dengan makna ketauhidan.

Akhirnya, supervisi instruksional berbasis nilai Islam bukan hanya strategi peningkatan mutu guru, tetapi bagian dari kepemimpinan pendidikan yang bernilai ibadah. Ketika supervisi dilakukan dengan niat islah (perbaikan), pendekatan dialogis, dan orientasi pembinaan, maka guru akan tumbuh tidak hanya sebagai pengajar yang kompeten, tetapi juga sebagai murabbi yang menghadirkan ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inilah esensi pendidikan Islam yang perlu terus dijaga dan diperjuangkan di tengah dinamika pendidikan modern.

____

Post a Comment

Previous Post Next Post